Imunisasi Polio Pada Bayi

Virus polio yang menyebabkan penyakit poliomyelitis merupakan salah satu virus sangat menular dimana penyebarannya melalui makanan atau dari mulut ke mulut. Anak yang terserang polio mengalami kerusakan pada selaput otak dan terjadi kelumpuhan pada tubuh bagian bawah anak.

Karena penyakit ini terbilang berbahaya dan menjadi penyakit endemis di Indonesia, pemerintah mewajibkan pemberian imunisasi polio pada bayi sejak bayi baru lahir. Setelah itu, vaksin polio diberikan lagi sebanyak tiga dosis berturut-turut dengan jarak 6-8 minggu antara masing-masing vaksinasi. Pemberian vaksin polio ada yang melalui mulut (oral/OPV, vaksin hidup) dan melalui suntikan (injeksi/IPV, vaksin mati). Vaksin polio oral diberikan sebanyak 2 tetes atau sekitar 0,1 ml dan harus diulang jika dalam 10 menit caira vaksin dimuntahkan oleh anak. Sementara, vaksin polio injeksi diberikan dengan dosis sebanyak 0.5 ml dalam tiga kali pemberian berturut-turut dengan interval 2 bulan masing-masing dosis.

Saat ini pemberian imunisasi polio pada bayi juga ada yang dalam bentuk simultan dengan vaksin lain yaitu DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus) dan HiB (Haemophilus Influenzae tipe B) atau biasa disebut dengan imunisasi kombo. Keuntungan menggunakan imunisasi jenis kombo ini dalam satu kali pemberian imunisasi (injeksi), anak langsung mendapatkan tiga jenis vaksin. Namun, harganya memang jauh lebih tinggi ketimbang vaksin tunggal polio saja.

Seperti pada pemberian imunisasi lainnya, vaksinasi polio pun dapat menimbulkan reaksi tertentu pada tubuh anak, tergantung daya tahan masing-masing. Setelah pemberian vaksin, anak mungkin akan merasa pusing, diare ringan, atau nyeri otot. Namun efek ini sangat jarang terjadi. Jika pun terjadi, ini jauh lebih ringan daripada harus terserang penyakit poliomyelitis itu sendiri. Kasus poliomyelitis yang terjadi setelah vaksinasi polio juga pernah terjadi namun hanya 1 dari 2.5 juta vaksin, terjadi 4-30 hari setelah pemberian OPV. Sehingga tidak cukup bukti untuk disebutkan bahwa kasus penyakit polio disebabkan justru oleh pemberian vaksin.

Meski demikian, segera hubungi dokter apabila setelah pemberian imunisasi polio pada bayi terjadi demam tinggi, gangguan perilaku, atau tanda-tanda reaksi anafilaksis seperti kesulitan bernafas, urtikaria (kelainan kulit berupa munculnya ruam kemerahan dengan sedikit pembengkakan), pusing hingga pingsan.

Setelah mengisi form di bawah ini, anda akan menerima beberapa email berseri yang menjelaskan bisnis Oriflame bersama d'BC Network
Dari mana anda mendengar tentang website ini?
Kami menjaga kerahasiaan data anda
*for non Oriflame members only
©copyright d'BCN
// JavaScript Document