Imunisasi DPT Pada Bayi

Bayi yang baru lahir masih rentan terhadap penyakit disebabkan sistem imun tubuhnya yang belum sempurna. Untuk meningkatkan kekebalan tubuh dapat diberikan imunisasi. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dimana dapat menyebabkan kematian seperti Difteri, Pertusis (batuk rejan), dan Tetanus dapat dicegah dengan memberikan imunisasi DPT pada bayi. Ketiga penyakit ini merupakan penyakit berbahaya, difteri dan pertusis dapat menular melalui kontak langsung dengan penderita, sementara tetanus menginfeksi tubuh melalui luka terbuka.

Difteri ditandai dengan munculnya selaput yang menutupi bagian tenggorokan dan kerongkongan. Dr. William Sears, penulis buku The Baby Book, menjelaskan bahwa selaput ini dapat mengganggu atau menghalangi jalan nafas, serta mengakibatkan kelemahan otot dan gagal jantung. Pertusis menyerang penderita dalam bentuk batuk hebat menyiksa yang menyebabkan kesulitan makan, minum, dan bernafas. Batuk ini dapat berlangsung selama beberapa minggu (karena itu dikenal juga dengan sebutan “batuk 100 hari”) dan bisa menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, kejang, bahkan kerusakan otak. Sementara itu, tetanus ditandai dengan munculnya kekakuan atau kekejangan otot sehingga penderita bahkan tidak dapat membuka mulut dan menelan.

Imunisasi DPT pada bayi termasuk imunisasi wajib yang diberikan kepada bayi agar dapat menghindarkan seseorang dari ketiga penyakit di atas. Imunisasi diberikan sejak bayi hingga usia balita sebanyak lima kali yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 18 bulan, dan lima tahun. Reaksi atau efek samping setelah imunisasi umumnya anak mengalami demam, ruam merah di sekitar lokasi suntikan. Ada juga reaksi yang cukup berat namun sangat jarang terjadi seperti kejang atau demam di atas 40.5°C.

Selama ini banyak kekhawatiran orangtua untuk memberikan imunisasi kepada anak karena adanya risiko efek samping di atas. Sesungguhnya kekhawatiran ini tidak perlu, karena reaksi pasca imunisasi derajatnya bisa bervariasi tergantung reaksi tubuh anak terhadap vaksin yang diberikan

Selain itu, anak tetap dapat diberikan imunisasi meski sedang mengalami sakit ringan seperti demam, pilek, atau diare ringan. Imunisasi DPT pada bayi dapat ditunda atau bahkan tidak diberikan apabila pernah mengalami reaksi alergi berat (anafilaksis), menderita kelainan saraf, atau mengalami reaksi berat seperti kejang, menangis lebih dari 3 jam, atau demam amat tinggi pada pemberian imunisasi DPT sebelumnya.

Setelah mengisi form di bawah ini, anda akan menerima beberapa email berseri yang menjelaskan bisnis Oriflame bersama d'BC Network
Dari mana anda mendengar tentang website ini?
Kami menjaga kerahasiaan data anda
*for non Oriflame members only
©copyright d'BCN
// JavaScript Document